Sanghyang Tikoro dalam Lukisan Antoine Payen: Potret Alam dari Masa Kolonial
INFO BANDUNG BARAT — Gua Sanghyang Tikoro telah lama memikat perhatian berbagai kalangan, mulai dari penjelajah, ilmuwan, hingga seniman. Terletak di kawasan Rajamandala, Bandung Barat, tempat ini tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menyimpan jejak sejarah sejak masa kolonial.
Catatan awal mengenai Sanghyang Tikoro dapat ditelusuri dari kunjungan Antoine Payen pada tahun 1819. Payen, yang dikenal sebagai guru Raden Saleh, menghabiskan waktu sekitar tiga minggu di wilayah tersebut, yakni dari 28 April hingga 19 Mei 1819. Ia tinggal di sekitar Cisambeng sebagai bagian dari ekspedisi ilmiah yang dipimpin oleh Caspar Georg Carl Reinwardt.
Selama berada di sana, Payen melukis Sanghyang Tikoro dan aliran Sungai Citarum dari berbagai sudut. Ia juga mencatat legenda lokal tentang Sangkuriang, yang berkisah tentang upaya membendung sungai demi memenuhi syarat pernikahan dengan ibunya. Dalam versi yang ia dengar, kegagalan tersebut berujung pada terbentuknya lanskap di kawasan Sanghyang Tikoro. Ia juga menemukan kepala arca batu di sekitar sungai serta membuat sketsa jalur air yang kini dikenal sebagai Sanghyang Kenit.
Beberapa dekade kemudian, sekitar tahun 1846, ahli geologi asal Jerman, Franz Wilhelm Junghuhn, turut mengunjungi kawasan ini. Dalam pengamatannya, ia menyimpulkan bahwa lembah terjal Sungai Citarum terbentuk melalui proses erosi dalam jangka waktu yang sangat panjang. Ia juga mencatat bahwa aliran air di kawasan tersebut mengalir di bawah bebatuan sejauh kurang lebih tiga mil sebelum kembali muncul ke permukaan.
Memasuki awal abad ke-20, Sanghyang Tikoro mulai dikenal sebagai destinasi wisata. Hal ini tercatat dalam buku panduan perjalanan berbahasa Belanda, seperti Gids van Bandoeng en Midden-Priangan (1927) karya S. A. Reitsma dan W. H. Hoogland. Dalam panduan tersebut, wisatawan disarankan menggunakan kereta api hingga Stasiun Rajamandala, kemudian melanjutkan perjalanan menuju perkebunan Cipetir sebelum berjalan kaki ke lokasi gua.
Pesona Sanghyang Tikoro juga menarik perhatian kalangan bumiputra. Pada Desember 1927, para pemuda yang menghadiri kongres di Bandung yang kemudian melahirkan organisasi Pemuda Indonesia dilaporkan sempat mengunjungi tempat ini. Kunjungan tersebut diberitakan dalam surat kabar De Sumatra Post pada Januari 1928. Kongres tersebut juga dihadiri oleh Soekarno, sehingga tidak menutup kemungkinan ia turut mengunjungi Sanghyang Tikoro.
Seiring waktu, Sanghyang Tikoro terus disebut dalam berbagai literatur, termasuk dalam surat kabar berbahasa Sunda seperti Sipatahoenan (1938). Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan Sanghyang Tikoro telah lama menjadi bagian penting dari sejarah dan budaya Jawa Barat.
Saat ini, kondisi gua telah mengalami perubahan sejak aliran Sungai Citarum dialihkan ke terowongan PLTA Rajamandala. Debit air yang masuk ke gua menjadi lebih kecil sehingga relatif lebih aman untuk dijelajahi. Meski demikian, Sanghyang Tikoro tetap menyimpan daya tarik sebagai perpaduan antara keindahan alam, sejarah panjang, dan legenda yang terus hidup di tengah masyarakat.