INFO BANDUNG BARAT — Mukena merupakan perlengkapan ibadah yang sangat lekat dengan identitas perempuan Muslim di Indonesia. Meski sering dianggap sebagai atribut wajib, mukena sebenarnya merupakan produk budaya asli Nusantara yang lahir dari proses panjang penyebaran Islam melalui pendekatan yang cerdas dan inklusif.
Dahulu, pakaian sehari-hari perempuan Nusantara umumnya berupa kemben atau kain jarik yang belum menutup aurat secara sempurna menurut kaidah Islam. Alih-alih memaksakan perubahan gaya berpakaian secara drastis yang mungkin memicu penolakan sosial, para ulama memperkenalkan mukena sebagai pakaian khusus untuk beribadah.
Mukena dirancang secara praktis sehingga dapat langsung dikenakan di atas pakaian rumah atau pakaian adat. Dengan cara ini, perempuan tetap dapat melaksanakan salat dengan menutup aurat tanpa harus sepenuhnya mengubah tradisi berpakaian sehari-hari.
Pendekatan tersebut juga menyesuaikan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat saat itu sehingga mudah diterima tanpa menghilangkan kearifan lokal. Selain praktis, mukena juga memiliki makna simbolis sebagai penanda transisi dari aktivitas duniawi menuju ibadah. Pada awalnya, mukena identik dengan warna putih yang melambangkan kesucian, meskipun kini telah berkembang dengan berbagai warna dan motif.
Dikutip dari laman TribunJabar.id (2019), sejarah mukena berkaitan dengan sosok pendakwah perempuan bernama Sarifah Bagdad yang hidup pada abad ke-14 Masehi di Cirebon, Jawa Barat. Ia dikenal sebagai orang pertama yang memperkenalkan mukena kepada muslimah di wilayah tersebut sehingga dikenal dengan sebutan Nyai Mukena.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon, R. Chaidir Susilaningrat, memaparkan bahwa Nyai Mukena datang ke Cirebon bersama saudara-saudaranya untuk menyebarkan ajaran Islam, bahkan sebelum kedatangan Sunan Gunung Djati pada abad ke-15. Salah satu saudaranya adalah Syekh Datul Kahfi yang juga menjadi guru agama bagi Nyi Mas Rarasantang, ibu Sunan Gunung Djati.
Sebagai pengajar ilmu fikih bagi perempuan, Nyai Mukena menggunakan pendekatan budaya dalam berdakwah. Ia terlebih dahulu mengajarkan pentingnya bersuci setelah menstruasi maupun setelah melahirkan. Setelah itu, ia memperkenalkan tata cara berpakaian yang sesuai untuk melaksanakan salat.
Pada masa itu, banyak perempuan Nusantara yang baru memeluk Islam masih mengenakan pakaian terbuka. Karena salat mensyaratkan aurat harus tertutup, Nyai Mukena kemudian merancang pakaian khusus berupa selembar kain putih yang dijahitnya sendiri untuk digunakan saat beribadah.
Seiring meluasnya penyebaran Islam di Nusantara, penggunaan mukena pun ikut menyebar hingga akhirnya menjadi pakaian yang umum digunakan oleh muslimah Indonesia ketika melaksanakan salat.
Tempat yang dahulu menjadi lokasi Nyai Mukena mengajarkan ilmu agama kini dikenal sebagai kawasan Kompleks Ziarah Makam Sunan Gunung Djati di Cirebon. Dari selembar kain putih sederhana itulah lahir sebuah tradisi yang terus bertahan hingga sekarang. Mukena bukan sekadar pakaian ibadah, tetapi juga menjadi simbol perpaduan antara dakwah Islam dan kearifan budaya lokal di Indonesia.***