Luhut Apresiasi Alat Pembersih Citarum Buatan TNI AD Senilai Ratusan Juta
INFO BANDUNG BARAT—Pelaksanaan program Citarum Harum dinilai telah berhasil menorehkan pencapaian signifikan dalam memperbaiki kualitas ekosistem Sungai Citarum, baik dari aspek tata kelola penanggulangan sampah maupun standardisasi mutu air. Penjabat Gubernur Jawa Barat, Bey Machmudin, menegaskan bahwa program pemulihan lingkungan ini telah membawa dampak perubahan positif yang masif. Indikator keberhasilan tersebut terlihat jelas dari optimalnya penanganan limbah industri, reduksi luas lahan kritis, peningkatan Indeks Kualitas Air (IKA), hingga berkurangnya titik genangan banjir di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.
Klaim keberhasilan tersebut disampaikan Bey Machmudin saat mendampingi kunjungan kerja Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, di Sektor 9 Citarum Harum, Desa Galanggang, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Dalam kunjungan strategis ini, fokus perhatian tertuju pada demonstrasi pemakaian unit infrastruktur mekanis pembersih sampah terintegrasi. Alat tepat guna ini merupakan hasil inovasi teknologi yang dirancang secara mandiri oleh jajaran TNI Angkatan Darat melalui Bengkel Pusat Peralatan (Bengpuspal) Pusat Peralatan Angkatan Darat (Puspalad).
Lompatan Inovasi Teknologi Tepat Guna dan Efisiensi Anggaran Militer
Inovasi teknologi yang digagas oleh para prajurit TNI Angkatan Darat tersebut meliputi satu kesatuan sistem mekanisasi pembersih sungai, yang terdiri atas perahu ponton pengangkut sampah, mesin ban berjalan (conveyor), mesin pencacah, serta tungku pembakar sampah bersuhu tinggi (incinerator). Bey Machmudin melayangkan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, beserta seluruh jajaran militer atas dedikasi nyata dalam merancang solusi aplikatif yang sesuai dengan tantangan kebutuhan di lapangan. Kendati demikian, Bey mengingatkan bahwa pemulihan total DAS Citarum tetap membutuhkan komitmen kerja kolektif yang kuat antara otoritas birokrasi dan kesadaran swadaya masyarakat luas.
Di tempat yang sama, Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan mengaku terkejut sekaligus bangga atas efisiensi anggaran yang berhasil dicapai oleh kreativitas prajurit domestik. Luhut membuat komparasi bahwa sistem mekanis pengumpul sampah buatan luar negeri seperti bantuan dari Belanda dan Prancis memiliki harga fantastis mencapai satu juta dolar Amerika Serikat. Sementara itu, unit ban berjalan dan sistem ponton yang dikembangkan oleh Puspalad ini hanya menghabiskan biaya produksi sekitar 350 juta rupiah dengan kualitas performa operasional yang tidak jauh berbeda.
Meskipun memuji efisiensi biaya tersebut, Luhut memberikan catatan khusus agar unit insinerator pembakar sampah buatan TNI AD segera didaftarkan untuk menjalani uji emisi resmi di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Pengujian ini krusial dilakukan agar aspek kebersihan asap pembuangan dapat memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Walau secara teknis temperatur pembakaran internalnya telah mampu menyentuh angka ideal 800 derajat Celsius, pemantauan kualitas emisi gas buang harus tetap dipastikan aman bagi pemukiman sekitar sebelum diproduksi secara massal untuk didistribusikan ke tingkat kelurahan.
Transformasi Ekosistem DAS Citarum dan Kemitraan Reboisasi Global
Menoleh pada rekam jejak historis, Luhut membeberkan adanya perbedaan ekologis yang sangat mencolok pada kondisi fisik Sungai Citarum jika dibandingkan dengan kondisinya pada enam tahun lalu. Pada masa awal peluncuran program, tumpukan volume sampah di kawasan Sektor 9 Batujajar sangat menggurita dan padat, bahkan menyerupai daratan darurat yang dapat diinjak untuk berjalan di atas aliran air. Melalui konsistensi program Citarum Harum, kondisi air saat ini terpantau jauh lebih bening dan sehat. Pemprov Jabar juga berencana menempatkan unit insinerator di tingkat kelurahan guna mereduksi volume sampah harian, sehingga beban pembuangan akhir di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka dapat berkurang secara signifikan.
Sebagai penutup rangkaian agenda kedinasan di Bandung Barat, kunjungan kerja ini juga menyaksikan prosesi penandatanganan Pembaruan Memorandum Saling Pengertian antara pihak Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi bersama korporasi farmasi global AstraZeneca. Kerja sama internasional ini difokuskan pada program reboisasi masif serta revitalisasi lahan kritis di sepanjang hulu hingga hilir sungai. Langkah kemitraan hijau ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan keanekaragaman hayati sekaligus menjamin keberlanjutan sumber daya air yang produktif bagi hajat hidup masyarakat Jawa Barat.