38°C
21/07/2026
Sejarah

Sanghyang Kenit Menyimpan Jejak Sungai Citarum Purba di Bentang Karst Citatah Bandung Barat

  • Juli 21, 2026
  • 4 min read
Sanghyang Kenit Menyimpan Jejak Sungai Citarum Purba di Bentang Karst Citatah Bandung Barat

INFO BANDUNG BARAT — Di balik tebing-tebing batu kapur yang menjulang di Desa Rajamandala Kulon, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, terdapat sebuah kawasan yang menyimpan jejak perjalanan bumi selama jutaan tahun. Kawasan tersebut adalah Sanghyang Kenit, destinasi wisata alam yang menjadi bagian dari bentang alam Karst Citatah sekaligus merekam sejarah terbentuknya lanskap akibat aliran Sungai Citarum purba.

Keindahan Sanghyang Kenit tidak hanya terletak pada panorama alamnya. Kawasan ini juga menjadi ruang pertemuan antara sejarah geologi, arkeologi, dan budaya yang berkembang di tengah masyarakat Rajamandala Kulon. Bentang alam yang tampak saat ini merupakan hasil proses geologi yang berlangsung sangat lama, jauh sebelum kawasan tersebut dikenal sebagai destinasi wisata.

Berawal dari dasar laut purba

Secara geologi, Sanghyang Kenit berada di kawasan Karst Citatah yang merupakan bagian dari Formasi Rajamandala. Berdasarkan penelitian The Geology of Indonesia karya R.W. van Bemmelen, kawasan ini tersusun atas batu gamping yang terbentuk dari endapan organisme laut pada kala Miosen, sekitar 20 hingga 30 juta tahun yang lalu.

Pergerakan lempeng tektonik kemudian mengangkat endapan tersebut ke permukaan sehingga membentuk perbukitan batu kapur yang kini membentang di wilayah Citatah dan Rajamandala. Setelah proses pengangkatan itu terjadi, air hujan dan aliran sungai secara perlahan melarutkan batu kapur selama jutaan tahun melalui proses karstifikasi.

Proses tersebut menghasilkan berbagai bentang alam khas karst, seperti tebing terjal, ceruk, lorong alami, gua, hingga sungai bawah tanah. Bentuk-bentuk itulah yang menjadi karakter utama kawasan Sanghyang Kenit hingga sekarang.

Selain memiliki nilai geologi, kawasan karst juga berperan penting sebagai penyimpan air tanah, habitat berbagai jenis flora dan fauna, serta laboratorium alam yang menyimpan rekam jejak perubahan lingkungan selama jutaan tahun.

Ketika Sungai Citarum purba membentuk Sanghyang Kenit

Jauh sebelum Waduk Saguling dibangun pada dekade 1980-an, Sungai Citarum mengalir bebas melewati kawasan Rajamandala. Dalam kajian geologi, aliran tersebut dikenal sebagai Sungai Citarum purba yang memiliki debit air cukup besar sehingga mampu mengikis batuan kapur secara terus-menerus.

Selama ribuan hingga jutaan tahun, proses erosi tersebut membentuk lembah, lorong batu, ceruk, serta tebing-tebing kapur yang kini menjadi ciri khas bentang alam Sanghyang Kenit.

Jejak proses geomorfologi itu masih dapat diamati melalui struktur batuan dan morfologi kawasan yang tetap bertahan hingga saat ini. Interaksi antara air dan batu selama jutaan tahun menjadi faktor utama yang membentuk lanskap Karst Citatah sebagaimana dikenal sekarang.

Asal usul nama Sanghyang Kenit

Selain memiliki sejarah geologi yang panjang, Sanghyang Kenit juga dikenal melalui tradisi lisan yang berkembang di tengah masyarakat Rajamandala Kulon.

Dalam artikel ilmiah Mite Sanghyang Kenit: Daya Tarik Wisata Alam di Desa Rajamandala Kulon Kabupaten Bandung Barat, Heri Isnaini, Indra Permana, dan Riana Dwi Lestari menjelaskan bahwa nama “Sanghyang Kenit” berasal dari dua kata.

Kata sanghyang merujuk pada sesuatu yang dianggap suci atau dimuliakan, sedangkan kenit dikaitkan dengan pusaran air yang melingkar di kawasan tersebut. Masyarakat setempat meyakini pusaran air itu pernah menjadi bagian dari aliran Sungai Citarum purba yang melintasi kawasan Sanghyang Kenit.

Penamaan tersebut kemudian berkembang menjadi identitas kawasan sekaligus melahirkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu cerita yang paling dikenal berkaitan dengan tokoh Eyang Wastu Lingga. Dalam tradisi lisan masyarakat, tokoh tersebut dikisahkan melakukan ritual penyembelihan seekor kambing kendit sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Cerita tersebut menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Rajamandala Kulon, meskipun belum dapat diverifikasi sebagai fakta sejarah.

Berada dalam kawasan penting prasejarah

Nilai sejarah Sanghyang Kenit tidak dapat dipisahkan dari kawasan Rajamandala secara keseluruhan. Tidak jauh dari lokasi ini terdapat Goa Pawon, situs arkeologi tempat ditemukannya kerangka manusia prasejarah.

Penemuan tersebut menunjukkan bahwa kawasan karst Rajamandala telah menjadi ruang hidup manusia sejak masa prasejarah. Kondisi bentang alam yang menyediakan sumber air, tempat berlindung, serta sumber daya alam menjadikan kawasan ini sebagai salah satu lokasi penting dalam sejarah permukiman manusia di Jawa Barat.

Keberadaan Sanghyang Kenit menjadi bagian dari lanskap yang sama sehingga kawasan ini memiliki nilai geologi, arkeologi, dan budaya yang saling melengkapi.

Warisan alam yang perlu dijaga

Saat ini Sanghyang Kenit dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam di Kabupaten Bandung Barat. Tebing-tebing kapur yang menjulang, aliran Sungai Citarum, serta panorama khas kawasan karst menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung.

Namun, nilai Sanghyang Kenit tidak berhenti pada keindahan lanskapnya. Kawasan ini menyimpan rekam jejak terbentuknya bentang alam Karst Citatah, perjalanan Sungai Citarum purba, hingga tradisi lisan yang terus hidup di tengah masyarakat Rajamandala Kulon.

Pelestarian Sanghyang Kenit menjadi penting karena kawasan ini bukan hanya menyimpan warisan geologi, melainkan juga sejarah hubungan manusia dengan alam. Menjaga Sanghyang Kenit berarti menjaga salah satu bentang alam yang merekam perjalanan bumi sekaligus menjadi bagian dari identitas budaya Kabupaten Bandung Barat.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *